Pages

Kamis, 31 Juli 2014

Aroma Senja Yang Berbeda



Aku dan kamu berada di sebuah taman kota, duduk bersama bermandikan sebuah kebahagian. Kamu bahagia, aku juga bahagia. Kita berdua saling menatap tersenyum. Kau memecahkan sebuah keheningan dengan memulai suatu percakapan. Kalimat-kalimat keluar dari mulut mu dan aku yang berada di samping mu langsung menanggapinya. Tiba-tiba saja tempatnya menjadi lain. Kita tidak lagi berada di sebuah taman kota melainkan di sebuah kamar tidur. Tetapi suasananya tidak berbeda. Kita tidur bersama bermandikan sebuah kebahagiaan. Kamu bahagia, aku juga bahagia. Kita berdua saling menatap tersenyum. Tidak ada percakapan disana, yang ada hanyalah mata yang saling tatap, tangan yang membelai leher ku dengan lembut dan dua bibir yang tersenyum bahagia. Jarak kita tidur semakin dekat..dekat..dekat sampai akhirnya aku menutup mata ku tepat pada saat bibir mu mendarat di bibir ku. Kurang lebih sepuluh menit keheningan membungkus kita kala itu. Tiba-tiba saja kau berhenti mencium ku, kau menatap ku lagi, memegang tangan ku dan mengatakan “aku mencintai mu, entah sampai kapan” lalu memeluk ku erat,sungguh erat hingga tubuh ku bisa merasakan kehangatan yang kau beri. Ada air mata yang jatuh dari pelupuk mata mu kala kau mencium jidat ku, “aku mencintai mu entah sampai kapan”

Bunyi alarm di handphone sangatlah kuat sampai-sampai mimpi indah itu berhasil di kacaukan olehnya. Ternyata hanya mimpi. Masih dengan mimpi yang sama-bersama mu berselimutkan kebahagiaan. Entah sampai kapan aku akan bermimpi tentang mu. Masih terekam jelas kisah demi kisah yang pernah kita lalui bersama, ia mengikuti ku  setiap saat, memaksa ku untuk berhenti berlari melupakan mu. Ia masih ada disini, menemani ku sendirian hingga aku tak dapat melupakan mu dan yang ada di hidup ku hanyalah semua tentang mu, membuat mimpi dalam tidur ku hanyalah membahas tentang kita. Masa lalu itu. Aku tak tahu sudah berapa banyak butir air mata yang terjatuh semenjak kau pergi, aku tak tahu sudah berapa banyak pasang telinga yang mendengarkan keluh kesah ku, aku tak tahu sudah berapa tempat yang ku kunjungi untuk menghilangkan kesepian ku. Semuanya tak dapat membantu ku menghilangkan rasa ini. Semakin ku coba untuk melepaskan, semakin sakit yang ku dapat. 

Aku menatap kosong pada sebuah langit-langit kamar penuh dengan tempelan bintang-bintang buatan yang ku beli di toko aksesoris setahun silam. Ku periksa isi handphone ku, berharap ada sesuatu yang bisa membuat hati ku merasa sedikit lebih tenang hari ini. beberapa sosial media sudah ku periksa. Tidak ada. Jemari ini lincah membuka akun sosial media yang lebih bernama instagram. Ada sepuluh notifikasi yang belum ku buka-ternyata Sembilan like foto dari followers ku dan satu permintaan follow back. Terbesit di pikiran ku untuk meeng-stalk akun instagramnya. Sudah lama tidak ku lihat postingan gambar dari akunnya. Semenjak dia sibuk memotert senja dengan kamera barunya (sayang sekali, ia membeli kamera pada saat hubungan kita sudah berkahir, aku pun tak bisa menemaninya memotret senja. Naas). Ternyata bukan sebuah kabar baik yang ku dapat, tetapi terburuk. Membuat suasan hati lebih kacau bukan lebih tenang. Semenit kemudian hp ku menampilkan profile akunnya. Ternyata ada tiga postingan baru. Ada satu foto mu dengan sebuah kertas yang kau tempel di bibir mu dengan tanda senyum yang mengambang di atas kertas itu sementara ekspresi mu memancarkan aura sedih. Pertanda sebuah maksud bahwa sesedih apapun kau, harus ada sebuah senyuman yang mengambang disana, di bibir mu. Bibir yang pernah ku sentuh dengan bibir ku. Telihat seperti kau memakai topeng dalam kehidupan mu. Aku tahu maksud mu, kau lakukan itu supaya orang-orang tak bisa meraba kesakitan mu. Karna hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya- termasuk aku. 

Ternyata air mata ini sudah terjatuh semenjak foto mu menyapa dalam layar hp ku. Melihat kertas yang bergambarkan lengkungan senyum itu membuat aku teringat dengan kejadian waktu lalu di dalam mobil bersama mu, Nirmala dan ibunya. Waktu itu aku jatuh pingsan di rumah nirmala dan sialnya aku jatuh di depan mu membuat satu persatu kelemahan ku mulai terbuka. Kata Nirmala kau cemas melihat kondisi ku waktu itu. Kau mengangkatku ke tempat tidur, tak peduli seberapa berat badan ku ini. Setelah diri ini tersadar tapi masih dalam keadaan lemah, mama Nirmala mengusulkan untuk mengantarkan ku pulang menggunakan mobil mereka. Kau duduk di samping ku, memegang tangan ku dan tersenyum, meski aku tahu itu bukan senyum gembira. Ada sedikit kekhawatiran di balik senyum mu. Mata mu berkaca-kaca dan kau mencoba menahan butiran kristal itu agar tidak jatuh. Kau menyuruh ku untuk tersenyum tapi aku tak mau, lalu kau mengambil sebuah kertas menggariskan sebuah lengkungan dan menempelkannya di bibir ku sambil berbisik “All is well, sayang”. 

Air mata tak berhenti berjatuhan.

Ada dua foto lagi yang kau posting. Senja. Dua foto senja dengan caption yang berbeda. Pikiran ku melayang lagi pada sebuah kejadian di masa lalu. Kau suka sekali membuat puisi tentang senja untuk ku, puisi-puisi itu bercerita tentang sebuah harapan untuk bersatu. Harapan Fajar untuk bersatu dengan Senja yang membungkus bibir pantai. Entah ada berapa puisi Senja yang kau buat. Entah berapa butir air mata kebahagiaan yang jatuh di wajah ku setiap kali membacanya. Sebuah harapan untuk bersatu yang terbilang mustahil untuk terwujud. Bagaimana mungkin Fajar dan Senja bisa bersatu? Bahkan bertemu saja sudah sangat susah. Kau tahu sendiri Fajar muncul pada pagi hari sedangkan Senja pada saat petang.

Tak ku sangka kau masih saja menulis puisi tentang senja. Tapi sontak aku kaget. Puisi kali ini tidak lagi bercerita tentang harapan-harapan itu. Hanya ada sebuah ke-putus-asa-an di sana yang jika berdebat dengan mu, kau selalu mengatakan bahwa itu bukan suatu ke-putus-asa-an melainkan suatu hal yang realistis. 

Tangisan ku kali ini semakin keras. Aku memeluk bantal guling ku yang sedari tadi basah oleh air mata ku. Belum pernah sesedih ini membaca puisi yang kau buat. Bahkan kau menganggap Senja hanyalah apa yang selama ini membungkus bibir pantai. Kau hanya menganggap senja sebagai sebuah cerita angan, sebuah harapan yang terlalu sia-sia - sebentar muncul, sebentar lenyap. Sakit. Bahkan terlalu sakit. Sebuah pedang kenyataan menusuk cinta kita. Membuat sepasang hati terluka dan sayangnya kita tak bisa menyembuhkannya bersama-sama. Aku menyembuhkan hati ku sendiri dan kau juga begitu. Tidak saling membantu. Tetapi sayangnya hati mu lah yang sembuh terlebih dahulu. Sementara aku masih disini. Masih duduk sendiri dan berharap kau akan membuat puisi senja beraroma harapan untuk bersama lagi tak peduli seberapa besar perbedaan yang ada. 

Manado, 1st August 2014 - in your arms



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com