Pages

Sabtu, 02 Mei 2015

Senang Bercerita



Dia senang bercerita  

Bercerita tentang ibu dan bapaknya sewaktu masih muda dulu

Dia senang bercerita

Bercerita tentang calon istrinya yang bekerja sebagai seorang psikolog

Dia senang bercerita

Bercerita tentang tantangan-tantangan yang ada dalam pekerjaannya sebagai seorang tentara

Aku senang mendengarnya bercerita

Walaupun ia tak pernah bercerita tentang kita

Duapuluh lima januari


Duapuluh lima januari

Adalah hari dimana kita tidur bersama

Duapuluh lima januari

Berjarak tujuh hari dengan hari ulang tahun ku

Duapuluh lima januari

Kamu mengajakku bercinta di hotel formosa

Kamu ingin tiga rate bercinta

Aku ingin pelukanmu

Kamu ingin desahanku

Aku ingin bisikan “aku mencintaimu” darimu

Oh mantan kekasih

Sudah hampir setahun kita seperti ini

Maukah kau merajut kembali hubungan kita?

Aku muak dengan cara kita bersama

Kau ajak aku bercinta

Kemudian kau pergi dengan pacarmu yang baru

Duapuluh enam januari

Berjarak delapan hari dengan ulang tahun ku

Pagi yang indah bersama dekapan mu

Dalam tidur nyenyak ku

Lalu kau usir aku pergi

-          2014, bersama Mr. Kev-

Jumat, 01 Mei 2015

Sayap Patah



Sayapku patah sebelah

Susah untuk terbang 

Sayap ku patah sebelah 

Hilang keseimbangan 

Sayap ku patah sebelah 

Bantu aku terbang

Kamis, 31 Juli 2014

Aroma Senja Yang Berbeda



Aku dan kamu berada di sebuah taman kota, duduk bersama bermandikan sebuah kebahagian. Kamu bahagia, aku juga bahagia. Kita berdua saling menatap tersenyum. Kau memecahkan sebuah keheningan dengan memulai suatu percakapan. Kalimat-kalimat keluar dari mulut mu dan aku yang berada di samping mu langsung menanggapinya. Tiba-tiba saja tempatnya menjadi lain. Kita tidak lagi berada di sebuah taman kota melainkan di sebuah kamar tidur. Tetapi suasananya tidak berbeda. Kita tidur bersama bermandikan sebuah kebahagiaan. Kamu bahagia, aku juga bahagia. Kita berdua saling menatap tersenyum. Tidak ada percakapan disana, yang ada hanyalah mata yang saling tatap, tangan yang membelai leher ku dengan lembut dan dua bibir yang tersenyum bahagia. Jarak kita tidur semakin dekat..dekat..dekat sampai akhirnya aku menutup mata ku tepat pada saat bibir mu mendarat di bibir ku. Kurang lebih sepuluh menit keheningan membungkus kita kala itu. Tiba-tiba saja kau berhenti mencium ku, kau menatap ku lagi, memegang tangan ku dan mengatakan “aku mencintai mu, entah sampai kapan” lalu memeluk ku erat,sungguh erat hingga tubuh ku bisa merasakan kehangatan yang kau beri. Ada air mata yang jatuh dari pelupuk mata mu kala kau mencium jidat ku, “aku mencintai mu entah sampai kapan”

Bunyi alarm di handphone sangatlah kuat sampai-sampai mimpi indah itu berhasil di kacaukan olehnya. Ternyata hanya mimpi. Masih dengan mimpi yang sama-bersama mu berselimutkan kebahagiaan. Entah sampai kapan aku akan bermimpi tentang mu. Masih terekam jelas kisah demi kisah yang pernah kita lalui bersama, ia mengikuti ku  setiap saat, memaksa ku untuk berhenti berlari melupakan mu. Ia masih ada disini, menemani ku sendirian hingga aku tak dapat melupakan mu dan yang ada di hidup ku hanyalah semua tentang mu, membuat mimpi dalam tidur ku hanyalah membahas tentang kita. Masa lalu itu. Aku tak tahu sudah berapa banyak butir air mata yang terjatuh semenjak kau pergi, aku tak tahu sudah berapa banyak pasang telinga yang mendengarkan keluh kesah ku, aku tak tahu sudah berapa tempat yang ku kunjungi untuk menghilangkan kesepian ku. Semuanya tak dapat membantu ku menghilangkan rasa ini. Semakin ku coba untuk melepaskan, semakin sakit yang ku dapat. 

Aku menatap kosong pada sebuah langit-langit kamar penuh dengan tempelan bintang-bintang buatan yang ku beli di toko aksesoris setahun silam. Ku periksa isi handphone ku, berharap ada sesuatu yang bisa membuat hati ku merasa sedikit lebih tenang hari ini. beberapa sosial media sudah ku periksa. Tidak ada. Jemari ini lincah membuka akun sosial media yang lebih bernama instagram. Ada sepuluh notifikasi yang belum ku buka-ternyata Sembilan like foto dari followers ku dan satu permintaan follow back. Terbesit di pikiran ku untuk meeng-stalk akun instagramnya. Sudah lama tidak ku lihat postingan gambar dari akunnya. Semenjak dia sibuk memotert senja dengan kamera barunya (sayang sekali, ia membeli kamera pada saat hubungan kita sudah berkahir, aku pun tak bisa menemaninya memotret senja. Naas). Ternyata bukan sebuah kabar baik yang ku dapat, tetapi terburuk. Membuat suasan hati lebih kacau bukan lebih tenang. Semenit kemudian hp ku menampilkan profile akunnya. Ternyata ada tiga postingan baru. Ada satu foto mu dengan sebuah kertas yang kau tempel di bibir mu dengan tanda senyum yang mengambang di atas kertas itu sementara ekspresi mu memancarkan aura sedih. Pertanda sebuah maksud bahwa sesedih apapun kau, harus ada sebuah senyuman yang mengambang disana, di bibir mu. Bibir yang pernah ku sentuh dengan bibir ku. Telihat seperti kau memakai topeng dalam kehidupan mu. Aku tahu maksud mu, kau lakukan itu supaya orang-orang tak bisa meraba kesakitan mu. Karna hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya- termasuk aku. 

Ternyata air mata ini sudah terjatuh semenjak foto mu menyapa dalam layar hp ku. Melihat kertas yang bergambarkan lengkungan senyum itu membuat aku teringat dengan kejadian waktu lalu di dalam mobil bersama mu, Nirmala dan ibunya. Waktu itu aku jatuh pingsan di rumah nirmala dan sialnya aku jatuh di depan mu membuat satu persatu kelemahan ku mulai terbuka. Kata Nirmala kau cemas melihat kondisi ku waktu itu. Kau mengangkatku ke tempat tidur, tak peduli seberapa berat badan ku ini. Setelah diri ini tersadar tapi masih dalam keadaan lemah, mama Nirmala mengusulkan untuk mengantarkan ku pulang menggunakan mobil mereka. Kau duduk di samping ku, memegang tangan ku dan tersenyum, meski aku tahu itu bukan senyum gembira. Ada sedikit kekhawatiran di balik senyum mu. Mata mu berkaca-kaca dan kau mencoba menahan butiran kristal itu agar tidak jatuh. Kau menyuruh ku untuk tersenyum tapi aku tak mau, lalu kau mengambil sebuah kertas menggariskan sebuah lengkungan dan menempelkannya di bibir ku sambil berbisik “All is well, sayang”. 

Air mata tak berhenti berjatuhan.

Ada dua foto lagi yang kau posting. Senja. Dua foto senja dengan caption yang berbeda. Pikiran ku melayang lagi pada sebuah kejadian di masa lalu. Kau suka sekali membuat puisi tentang senja untuk ku, puisi-puisi itu bercerita tentang sebuah harapan untuk bersatu. Harapan Fajar untuk bersatu dengan Senja yang membungkus bibir pantai. Entah ada berapa puisi Senja yang kau buat. Entah berapa butir air mata kebahagiaan yang jatuh di wajah ku setiap kali membacanya. Sebuah harapan untuk bersatu yang terbilang mustahil untuk terwujud. Bagaimana mungkin Fajar dan Senja bisa bersatu? Bahkan bertemu saja sudah sangat susah. Kau tahu sendiri Fajar muncul pada pagi hari sedangkan Senja pada saat petang.

Tak ku sangka kau masih saja menulis puisi tentang senja. Tapi sontak aku kaget. Puisi kali ini tidak lagi bercerita tentang harapan-harapan itu. Hanya ada sebuah ke-putus-asa-an di sana yang jika berdebat dengan mu, kau selalu mengatakan bahwa itu bukan suatu ke-putus-asa-an melainkan suatu hal yang realistis. 

Tangisan ku kali ini semakin keras. Aku memeluk bantal guling ku yang sedari tadi basah oleh air mata ku. Belum pernah sesedih ini membaca puisi yang kau buat. Bahkan kau menganggap Senja hanyalah apa yang selama ini membungkus bibir pantai. Kau hanya menganggap senja sebagai sebuah cerita angan, sebuah harapan yang terlalu sia-sia - sebentar muncul, sebentar lenyap. Sakit. Bahkan terlalu sakit. Sebuah pedang kenyataan menusuk cinta kita. Membuat sepasang hati terluka dan sayangnya kita tak bisa menyembuhkannya bersama-sama. Aku menyembuhkan hati ku sendiri dan kau juga begitu. Tidak saling membantu. Tetapi sayangnya hati mu lah yang sembuh terlebih dahulu. Sementara aku masih disini. Masih duduk sendiri dan berharap kau akan membuat puisi senja beraroma harapan untuk bersama lagi tak peduli seberapa besar perbedaan yang ada. 

Manado, 1st August 2014 - in your arms



Sabtu, 28 Juni 2014

katanya dan nyatanya ny Neny Silvana

2012 pernah baca puisi ini dan langsung di copy di hp Blackberry dan hpnya hilang tahun lalu. sekarang baru dapat lagi hasil googling dan bakal post puisinya karna lagi alamin hal yang sama








Katanya aku bosan, aku jenuh
Nyatanya aku masih menunggu dan berharap
Katanya aku lelah, aku sakit hati
Nyatanya aku hanya sedih dan kecewa
Katanya aku tak sanggup, tak mampu
Nyatanya aku masih di sini dan setia
Katanya aku jera, aku takut
Nyatanya aku masih berani dan menuliskan namamu
Hatiku yang menunggu,
Hatiku yang masih siaga
Hatiku yang belum jera
Hanya aku yang sudah lelah,
Lelah memahami
Dan takut untuk bermimpi
Katanya aku  tak ingin terlihat lemah
Nyatanya aku hanya terlihat layaknya orang yang munafik
Aku sudah siap melupakan
Nyatanya hatiku yang tak sanggup.

i need friends



Pineap, please come back
Semenjak putus dengan kevin, aku jadi punya ide untuk sibuk-sibukin biar gak terjebak dalam adegan drama nangis-nangisan all day all night. Entah dalam bentuk apa, yang pasti harus sibuk to the max setiap harinya biar gak drama lagi seperti bulan pertama di tinggalin. Huhuhu. Beberapa list udah gue bikin. Ketemu nirmala, besoknya ketemu nanda, besoknya ketemu cika, besoknya ketemu risky dan anjrit.. spending time with only one friend doing itu ternyata gak enak kalo di jalanin terus-terusan. Akhirnya terjebak ke adegan drama lagi. Ngabisin waktu dengan teman, pulang, stuck on mikir kevin lagi. 

Aku coba sibuk-sibukin diri lagi. Selalu mencari apa yang bikin aku gak kepikiran masalah aku dan kevin lagi. Beruntung lagi prakerin punya jam kerja yang menyita waktu. Minggu pertama pindah di salah satu perusahaan komputer (sebetulnya tempat aku PKL sebelumnya bukan di Perusahaan Komputer yang sekarang aku tempati, melainkan di korem. Aku belum cerita ya? Hahaha ntar ya, not in the mood to tell you about it) aku langsung di tempatkan di stand pameran yang bertempat di Mega Mall, jadi ceritanya minggu pertama itu gak langsung adaptasi di kantor aslinya, tapi langsung di lempar ke tempat pameran laptop (sialnya masuk pas waktu itu lagi ada pameran laptop & hp gitu di mall) 

Kampret..!! seminggu dengan jadwal pergi kerja jam setengah sebelas pagi (menjelang siang) sampai dengan jam Sembilan malam gak berhasil bikin aku move on the mood yang drama-drama itu. Gimana bisa move on orang tiap harinya si singer yang sering menghibur pengunjung pameran bawain lagu galau mulu bahkan ada yang sempat nyanyiin lagu ipang yang liriknya ‘takan pernah ku berpikir berpaling dari mu, walau kesepian menyiksa’ FYI nih ya, itu lagu yang kevin kasih denger pake headphonenya waktu kita lagi bertengkar di rumahnya Alvin dan aku sok jual mahal gitu gak mau senyum di depan dia, padahal bukan Cuma pengen senyum tapi pengen langsung peluk dia waktu itu. Hihihihi. Tuh kan keinget kenangan lagi. Pokoknya gitu deh, seminggu di pameran bukan bikin aku senang tapi malah mellow-melow gak jelas di balik meja tiap dengar lagu galau bahkan sempat bikin insiden nangis pula. Rasanya pengen ku tabok pake laptop Samsung i5 trus kalo gak mempan bakal di lempar pake proyektor Hitachi keluaran terbaru. 

Ternyata jawabannya pineapple. Bukan Cuma jalan berdua dengan seorang teman tapi jalan berlima dengan kawanan bangsat tapi ngangenin. I need them. Aku ingat zaman SMP, tiap kali ada masalah pasti larinya ke mereka. Kita bakal bikin janjian gitu buat menghibur salah satu dari kami yang lagi kena masalah. Dan hasilnya yasudah pasti pas pulang rumah, hati seakan plong meski solusinya masalahnya harus di selesaikan. Ketika kalian bisa tertawa lepas dengan true friendsnya kalian, it feels like when something could go wrong and its okey. That’s why I need them to hang out with me, to hear what I feel and what ive been trough. 

But once again, life has changed. Sekarang kita SMA dan di antara kelima anggota pineapple gak ada satupun yang sama sekolahnya. Lima sekawan dengan lima sekolah yang berbeda.
Dan kevin lagi-lagi menang. Dia punya banyak teman dan dia bisa setiap minggu jalan dengan teman-temannya. Aku bilang gini jadi ingat percakapan kita dulu “rul, percaya deh. Jalan Cuma berdua atau bertiga sama teman itu gak seru. Lebih seru kalau lima orang bahkan lebih” and he exactly right. Emang betul dan aku nemuin itu di pineap bukan di tempat lain.
Kev, andai kamu tahu betapa susahnya aku untuk bangkit dari kamu. Andai kamu tahu bahwa setiap malam, sampai detik ini aku masih aja mikirin kita. Mikirin old conversation kita, mikirin silly things kita, mikirin tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Kev, kamu masih aja menetap di langit-langit kamar aku. Gak tahan kalau lihat shadow kamu trus tersenyum ke aku dan bilang ‘selamat tidur sayang, I smurf you’ ala-ala Edward Cullen yang diem-diem sering datang ke kamar Bella Swan di film Twilght gitu. 

Aku kangen kev dan sampai sekarang aku masih berusah untuk cari teman jalan bareng seperti yang kamu bilang dulu biar gak gampang stress.

 

Template by BloggerCandy.com