Aku dan kamu berada di sebuah taman kota, duduk bersama
bermandikan sebuah kebahagian. Kamu bahagia, aku juga bahagia. Kita berdua
saling menatap tersenyum. Kau memecahkan sebuah keheningan dengan memulai suatu
percakapan. Kalimat-kalimat keluar dari mulut mu dan aku yang berada di samping
mu langsung menanggapinya. Tiba-tiba saja tempatnya menjadi lain. Kita tidak
lagi berada di sebuah taman kota melainkan di sebuah kamar tidur. Tetapi
suasananya tidak berbeda. Kita tidur bersama bermandikan sebuah kebahagiaan.
Kamu bahagia, aku juga bahagia. Kita berdua saling menatap tersenyum. Tidak ada
percakapan disana, yang ada hanyalah mata yang saling tatap, tangan yang
membelai leher ku dengan lembut dan dua bibir yang tersenyum bahagia. Jarak
kita tidur semakin dekat..dekat..dekat sampai akhirnya aku menutup mata ku
tepat pada saat bibir mu mendarat di bibir ku. Kurang lebih sepuluh menit
keheningan membungkus kita kala itu. Tiba-tiba saja kau berhenti mencium ku,
kau menatap ku lagi, memegang tangan ku dan mengatakan “aku mencintai mu, entah
sampai kapan” lalu memeluk ku erat,sungguh erat hingga tubuh ku bisa merasakan
kehangatan yang kau beri. Ada air mata yang jatuh dari pelupuk mata mu kala kau
mencium jidat ku, “aku mencintai mu entah sampai kapan”
Bunyi alarm di handphone sangatlah kuat sampai-sampai mimpi
indah itu berhasil di kacaukan olehnya. Ternyata hanya mimpi. Masih dengan
mimpi yang sama-bersama mu berselimutkan kebahagiaan. Entah sampai kapan aku
akan bermimpi tentang mu. Masih terekam jelas kisah demi kisah yang pernah kita
lalui bersama, ia mengikuti ku setiap
saat, memaksa ku untuk berhenti berlari melupakan mu. Ia masih ada disini,
menemani ku sendirian hingga aku tak dapat melupakan mu dan yang ada di hidup
ku hanyalah semua tentang mu, membuat mimpi dalam tidur ku hanyalah membahas
tentang kita. Masa lalu itu. Aku tak tahu sudah berapa banyak butir air mata
yang terjatuh semenjak kau pergi, aku tak tahu sudah berapa banyak pasang
telinga yang mendengarkan keluh kesah ku, aku tak tahu sudah berapa tempat yang
ku kunjungi untuk menghilangkan kesepian ku. Semuanya tak dapat membantu ku
menghilangkan rasa ini. Semakin ku coba untuk melepaskan, semakin sakit yang ku
dapat.
Aku menatap kosong pada sebuah langit-langit kamar penuh
dengan tempelan bintang-bintang buatan yang ku beli di toko aksesoris setahun
silam. Ku periksa isi handphone ku, berharap ada sesuatu yang bisa membuat hati
ku merasa sedikit lebih tenang hari ini. beberapa sosial media sudah ku
periksa. Tidak ada. Jemari ini lincah membuka akun sosial media yang lebih
bernama instagram. Ada sepuluh notifikasi yang belum ku buka-ternyata Sembilan
like foto dari followers ku dan satu permintaan follow back. Terbesit di
pikiran ku untuk meeng-stalk akun instagramnya. Sudah lama tidak ku lihat
postingan gambar dari akunnya. Semenjak dia sibuk memotert senja dengan kamera
barunya (sayang sekali, ia membeli kamera pada saat hubungan kita sudah
berkahir, aku pun tak bisa menemaninya memotret senja. Naas). Ternyata bukan
sebuah kabar baik yang ku dapat, tetapi terburuk. Membuat suasan hati lebih
kacau bukan lebih tenang. Semenit kemudian hp ku menampilkan profile akunnya.
Ternyata ada tiga postingan baru. Ada satu foto mu dengan sebuah kertas yang
kau tempel di bibir mu dengan tanda senyum yang mengambang di atas kertas itu
sementara ekspresi mu memancarkan aura sedih. Pertanda sebuah maksud bahwa
sesedih apapun kau, harus ada sebuah senyuman yang mengambang disana, di bibir
mu. Bibir yang pernah ku sentuh dengan bibir ku. Telihat seperti kau memakai
topeng dalam kehidupan mu. Aku tahu maksud mu, kau lakukan itu supaya
orang-orang tak bisa meraba kesakitan mu. Karna hanya orang-orang tertentu yang
bisa melihatnya- termasuk aku.
Ternyata air mata ini sudah terjatuh semenjak foto mu menyapa
dalam layar hp ku. Melihat kertas yang bergambarkan lengkungan senyum itu
membuat aku teringat dengan kejadian waktu lalu di dalam mobil bersama mu,
Nirmala dan ibunya. Waktu itu aku jatuh pingsan di rumah nirmala dan sialnya
aku jatuh di depan mu membuat satu persatu kelemahan ku mulai terbuka. Kata Nirmala
kau cemas melihat kondisi ku waktu itu. Kau mengangkatku ke tempat tidur, tak
peduli seberapa berat badan ku ini. Setelah diri ini tersadar tapi masih dalam
keadaan lemah, mama Nirmala mengusulkan untuk mengantarkan ku pulang
menggunakan mobil mereka. Kau duduk di samping ku, memegang tangan ku dan
tersenyum, meski aku tahu itu bukan senyum gembira. Ada sedikit kekhawatiran di
balik senyum mu. Mata mu berkaca-kaca dan kau mencoba menahan butiran kristal
itu agar tidak jatuh. Kau menyuruh ku untuk tersenyum tapi aku tak mau, lalu
kau mengambil sebuah kertas menggariskan sebuah lengkungan dan menempelkannya
di bibir ku sambil berbisik “All is well, sayang”.
Air mata tak berhenti berjatuhan.
Ada dua foto lagi yang kau posting. Senja. Dua foto senja
dengan caption yang berbeda. Pikiran ku melayang lagi pada sebuah kejadian di
masa lalu. Kau suka sekali membuat puisi tentang senja untuk ku, puisi-puisi
itu bercerita tentang sebuah harapan untuk bersatu. Harapan Fajar untuk bersatu
dengan Senja yang membungkus bibir pantai. Entah ada berapa puisi Senja yang
kau buat. Entah berapa butir air mata kebahagiaan yang jatuh di wajah ku setiap
kali membacanya. Sebuah harapan untuk bersatu yang terbilang mustahil untuk
terwujud. Bagaimana mungkin Fajar dan Senja bisa bersatu? Bahkan bertemu saja
sudah sangat susah. Kau tahu sendiri Fajar muncul pada pagi hari sedangkan
Senja pada saat petang.
Tak ku sangka kau masih saja menulis puisi tentang senja. Tapi sontak aku
kaget. Puisi kali ini tidak lagi bercerita tentang harapan-harapan itu. Hanya
ada sebuah ke-putus-asa-an di sana yang jika berdebat dengan mu, kau selalu
mengatakan bahwa itu bukan suatu ke-putus-asa-an melainkan suatu hal yang
realistis.
Tangisan ku kali ini semakin keras. Aku memeluk bantal guling
ku yang sedari tadi basah oleh air mata ku. Belum pernah sesedih ini membaca
puisi yang kau buat. Bahkan kau menganggap Senja hanyalah apa yang selama ini
membungkus bibir pantai. Kau hanya menganggap senja sebagai sebuah cerita
angan, sebuah harapan yang terlalu sia-sia - sebentar muncul, sebentar lenyap.
Sakit. Bahkan terlalu sakit. Sebuah pedang kenyataan menusuk cinta kita.
Membuat sepasang hati terluka dan sayangnya kita tak bisa menyembuhkannya
bersama-sama. Aku menyembuhkan hati ku sendiri dan kau juga begitu. Tidak
saling membantu. Tetapi sayangnya hati mu lah yang sembuh terlebih dahulu.
Sementara aku masih disini. Masih duduk sendiri dan berharap kau akan membuat
puisi senja beraroma harapan untuk bersama lagi tak peduli seberapa besar
perbedaan yang ada.
Manado, 1st August 2014 - in your arms