Sudah dua
minggu suasana hati ku tidak enak. Seperti kehilangan jiwa raga. Bagaimana
tidak, cerita yang ku harapkan berakhir dengan bahagia ternyata harus berhenti
di tengah jalan. Seperti seseorang yang menulis ceritanya tak sanggup lagi
menghadapi halaman-halaman selanjutnya, kehabisan ide. Dua minggu yang lalu
kami bertengkar hebat. Meskipun bertengkarnya hanya melalui SMS tetap saja
menyesakan dada. Bayangkan saja jika kau dan pacarmu masih saling menyayangi tetapi
harus berpisah karena sebuah perbedaan agama. Tetapi malam itu bukan soal
perbedaan agama yang menjadi persoalan kami bertengkar. Kami bukanlah dua
petinggi dari agama yang berbeda kemudian bertengkar karna sebuah perdebatan
mana agama yang lebih baik. Bukan. Seperti pasangan-pasangan yang lainnya yang memperdebatkan hal-hal kecil dalam hubungan tapi bisa menjadi besar jika satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Kami
bertengkar karna aku yang masih saja tak mau mendengarkan kata-katanya padahal
itu sudah pasti baik untuk ku jika aku mengikutinya dan dia yang masih saja
kekeuh dengan keputusannya yang mau hubungan itu di sudahi.
Malam itu
benar-benar menyesakan dada.
Dimana diri
ini ingin sekali mengatakan ‘jangan pergi’ tetapi dengan segala keterpaksaan
harus mengetik kalimat ‘oke, im gone’ dan mengirimkan pesan teks itu kepadanya.
Sakit bahkan terlalu sakit. Aku tahu lelaki itu masih menyayangi ku, tapi entah
kenapa iya berani melepaskan ku.
Ini lebih
dari sekedar berpegangan tangan dimana jika ada orang tua yang tau bahwa
anaknya sudah tahu berpacaran mereka pasti akan biang ‘ciee, yang sudah bisa
pegang tangan cowo/cewenya’. Kami menjalaninya bukan atas dasar ingin
bepegangan tangan duhai bapak, ibu. Tetapi untuk ku, ada sesuatu yang lebih
penting dari itu. Sesuatu yang jika kau merasakannya, maka bibir mu tak akan
pernah berhenti tersentum. Cinta. Aku mencintainya bahkan sebelum aku memgang
tangannya.
Dia memang
lelaki berbeda. Dia lelaki yang berani sekali membuat aku tertawa sedetik
kemudian membuat aku menangis. terlalu berharga untuk di lepaskan. Lelaki yang
sampai sekarang masih memenuhi langit-langit kamar ku. Lelaki yang sampai
sekarang masih ku jadikan tindakan-tindakanya sebagai sebuah contoh yang baik
untuk aku ikuti. Dan lelaki yang meminta ku untuk meninggalkannya.
Malam itu
benar-benar menyesakan dada.
Seminggu
kemudian kami pergi ke rumah teman bermoduskan ingin membuat praktek IPA. Aku
menangis, tak tahan lagi harus melihat wajahnya dalam situasi yang berbeda.
Sudah tidak ada kata sayang yang memenuhi ruangan TV teman kami. Suasanya
seperti di paksakan untuk tersenyum. Dia tahu apa yang ku rasa tanpa perlu ku
jelaskan. Tiba-tiba saja dia berdiri di samping ku dan menanyakan ‘rul, kok
nangis?’ dan memeluk ku dengan hangat. Aku rapuh tanpa mu, sayang.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tugas praktek IPA kami telah selsai (lebih tepatnya kekurangan bahan, maka apa yang ada malam itu harus di kumpulkan besok meskipun tidak sesuai target). Kami berjalan sama-sama menuju depan jalan. Ia menemani ku menunggu angkutan umum. Pada malam itu, semua penjelasan pun akhirnya terbuka. Membuat suatu hal yang jelas terlihat. Dia menangis dan jangan kau tanya apakah aku menangis atau tidak. He tell me the truth.
“maaf rul.
Kita emang beda. Aku seorang kristen dan kamu Seorang muslim” kemudian dia tersenyum
dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.
Mendengar ia
berkata seperti itu membuat diri ini semakin lemah. Hati, pikiran dan mulut
sepakat untuk tidak berkata apa-apa. Hanya air mata yang dapat mewakili
kesakitan malam itu. Sebuah janji telah di lempar di langit malam. Membuat dua
anak manusia kehabisan akal untuk bersatu kembali. Mereka bilang perbedaan itu
menyatukan, ternyta tidak begitu. Tidak semua perbedaan itu menyatukan. Bahkan
sebuah perbedaan bisa membuat dua anak manusia terpisah jauh. Teraniaya oleh
sebuah kenyataan pahit.
Kisah cinta
kami lebih dari sekedar berpegangan tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar