Pages

Minggu, 01 Juni 2014

Ini lebih dari sekedar berpegangan tangan

Sudah dua minggu suasana hati ku tidak enak. Seperti kehilangan jiwa raga. Bagaimana tidak, cerita yang ku harapkan berakhir dengan bahagia ternyata harus berhenti di tengah jalan. Seperti seseorang yang menulis ceritanya tak sanggup lagi menghadapi halaman-halaman selanjutnya, kehabisan ide. Dua minggu yang lalu kami bertengkar hebat. Meskipun bertengkarnya hanya melalui SMS tetap saja menyesakan dada. Bayangkan saja jika kau dan pacarmu masih saling menyayangi tetapi harus berpisah karena sebuah perbedaan agama. Tetapi malam itu bukan soal perbedaan agama yang menjadi persoalan kami bertengkar. Kami bukanlah dua petinggi dari agama yang berbeda kemudian bertengkar karna sebuah perdebatan mana agama yang lebih baik. Bukan. Seperti pasangan-pasangan yang lainnya yang memperdebatkan hal-hal kecil dalam hubungan tapi bisa menjadi besar jika satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Kami bertengkar karna aku yang masih saja tak mau mendengarkan kata-katanya padahal itu sudah pasti baik untuk ku jika aku mengikutinya dan dia yang masih saja kekeuh dengan keputusannya yang mau hubungan itu di sudahi.

Malam itu benar-benar menyesakan dada.

Dimana diri ini ingin sekali mengatakan ‘jangan pergi’ tetapi dengan segala keterpaksaan harus mengetik kalimat ‘oke, im gone’ dan mengirimkan pesan teks itu kepadanya. Sakit bahkan terlalu sakit. Aku tahu lelaki itu masih menyayangi ku, tapi entah kenapa iya berani melepaskan ku.

Ini lebih dari sekedar berpegangan tangan dimana jika ada orang tua yang tau bahwa anaknya sudah tahu berpacaran mereka pasti akan biang ‘ciee, yang sudah bisa pegang tangan cowo/cewenya’. Kami menjalaninya bukan atas dasar ingin bepegangan tangan duhai bapak, ibu. Tetapi untuk ku, ada sesuatu yang lebih penting dari itu. Sesuatu yang jika kau merasakannya, maka bibir mu tak akan pernah berhenti tersentum. Cinta. Aku mencintainya bahkan sebelum aku memgang tangannya.

Dia memang lelaki berbeda. Dia lelaki yang berani sekali membuat aku tertawa sedetik kemudian membuat aku menangis. terlalu berharga untuk di lepaskan. Lelaki yang sampai sekarang masih memenuhi langit-langit kamar ku. Lelaki yang sampai sekarang masih ku jadikan tindakan-tindakanya sebagai sebuah contoh yang baik untuk aku ikuti. Dan lelaki yang meminta ku untuk meninggalkannya.

Malam itu benar-benar menyesakan dada.

Seminggu kemudian kami pergi ke rumah teman bermoduskan ingin membuat praktek IPA. Aku menangis, tak tahan lagi harus melihat wajahnya dalam situasi yang berbeda. Sudah tidak ada kata sayang yang memenuhi ruangan TV teman kami. Suasanya seperti di paksakan untuk tersenyum. Dia tahu apa yang ku rasa tanpa perlu ku jelaskan. Tiba-tiba saja dia berdiri di samping ku dan menanyakan ‘rul, kok nangis?’ dan memeluk ku dengan hangat. Aku rapuh tanpa mu, sayang.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tugas praktek IPA kami telah selsai (lebih tepatnya kekurangan bahan, maka apa yang ada malam itu harus di kumpulkan besok meskipun tidak sesuai target). Kami berjalan sama-sama menuju depan jalan. Ia menemani ku menunggu angkutan umum. Pada malam itu, semua penjelasan pun akhirnya terbuka. Membuat suatu hal yang jelas terlihat. Dia menangis dan jangan kau tanya apakah aku menangis atau tidak. He tell me the truth.

“maaf rul. Kita emang beda. Aku seorang kristen dan kamu Seorang muslim” kemudian dia tersenyum dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.

Mendengar ia berkata seperti itu membuat diri ini semakin lemah. Hati, pikiran dan mulut sepakat untuk tidak berkata apa-apa. Hanya air mata yang dapat mewakili kesakitan malam itu. Sebuah janji telah di lempar di langit malam. Membuat dua anak manusia kehabisan akal untuk bersatu kembali. Mereka bilang perbedaan itu menyatukan, ternyta tidak begitu. Tidak semua perbedaan itu menyatukan. Bahkan sebuah perbedaan bisa membuat dua anak manusia terpisah jauh. Teraniaya oleh sebuah kenyataan pahit.


Kisah cinta kami lebih dari sekedar berpegangan tangan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com